1. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
1.1.1 Asal Mula etnis Tionghoa datang di Nusantara.
Ketika pada tahun 1293 kaisar Kubilai Khan dari dinasti Yuan (1280-1367)
memerintahkan pasukannya untuk menyerbu pulau Jawa dan memberi pelajaran kepada
raja Kartanegara dari kerajaan Singosari yang dianggap membangkang, ternyata di
sepanjang pesisir utara pulau Jawa telah ditemukan koloni-koloni pemukiman etnis
Tionghoa. Orang-orang Tionghoa ini yang berasal dari propinsi Hokkian di daratan
Tiongkok, pada umumnya adalah para pedagang perantara, petani dan tukang-tukang
kerajinan yang hidup dengan damai bersama penduduk setempat. Kemudian sebagian
prajurit pasukan Kubilai Khan yang terdiri dari orang-orang Tionghoa yang
direkrut dari propinsi Hokkian tidak mau kembali ke daratan Tiongkok. Mereka
takut menghadapi ancaman hukuman, karena pasukannya tertipu masuk perangkap
Raden Wijaya dan berhasil dihancurkan. Sebelumnya Raden Wijaya dengan bantuan
pasukan Kubilai Khan berhasil mengalahkan pasukan Singosari dan setelah itu ia mendirikan kerajaan Majapahit. Selain itu banyak anggota pasukan Kubilai Khan yang takut menghadapi pelayaran kembali ke daratan Tiongkok yang penuh bahaya alam dan perompak. Akhirnya mereka memilih untuk menetap di pesisir utara pulau Jawa dan menikah dengan perempuan-perempuan setempat. Merekalah yang mengajarkan cara-cara membuat bata, genting, gerabah dan membangun galangan kapal perang serta teknologi mesiu dan meriam-meriam berukuran besar dan panjang
Pada abad ke-15 di masa dinasti Ming (1368-1643), orang-orang Tionghoa dari
Yunnan mulai berdatangan untuk menyebarkan agama Islam, terutama di pulau Jawa. Pada dinasti ini keturunan Tionghoa yang meninggalkan tanah airnya akan dilarang untuk kembali lagi ke daratan Tiongkok. Oleh karena itu mereka berusaha untuk menciptakan dan membangun keluarga baru di Indonesia. Kelompok tersebut menggunakan bahasa daerah di tempat tinggalnya sebagai bahasa sehari-hari, di lain pihak mereka masih menganut adat istiadat Tionghoa seperti berdoa menurut kepercayaan Tionghoa tradisional atau memperingati tahun Tionghoa baru (Imlek). Kelompok ini disebut ‘Peranakan’ Tionghoa.
Tak dapat disangkal bahwa Laksamana Cheng Ho alias Sam Po Kong pada tahun 1410 dan tahun 1416 dengan armada yang dipimpinnya mendarat di pantai Simongan,
Semarang. Selain menjadi utusan Kaisar Yung Lo untuk mengunjungi Raja Majapahit,
ia juga bertujuan menyebarkan agama Islam. Selain Laksamana Cheng Ho, sebagian
besar dari wali songo yang berjasa menyebarkan agama Islam di pesisir pulau Jawa
dan mendirikan kerajaan Islam pertama di Demak berasal dari etnis Tionghoa. Para
wali tersebut antara lain Sunan Bonang (Bong Ang), Sunan Kalijaga (Gan Si
Cang), Sunan Ngampel (Bong Swi Hoo), Sunan Gunung Jati (Toh A Bo) dllnya konon
berasal dari Champa (Kamboja/Vietnam), Manila dan Tiongkok. Demikian juga Raden
Patah alias Jin Bun (Cek Ko Po), sultan pertama kerajaan Islam Demak, adalah
putera Kung Ta Bu Mi (Kertabumi), raja Majapahit (Brawijaya V) yang menikah dengan puteri Cina, anak pedagang Tionghoa bernama Ban Hong (Babah Bantong).
1.2 KEBUDAYAAN ETNIS JAWA
Suku bangsa Jawa, adalah suku bangsa terbesar di Indonesia. Jumlahnya mungkin ada sekitar 90 juta. Mereka berasal dari pulau Jawa dan terutama ditemukan di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tetapi di provinsi Jawa Barat, Banten dan tentu saja Jakarta mereka banyak diketemukan. Suku bangsa Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Dalam sebuah polling yang diadakan majalah Tempo pada awal dasawarsa 1990-an, kurang lebih hanya 12% orang Jawa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai sehari-hari, sekitar 18% menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia secara campur dan selebihnya terutama bahasa Jawa. Demikian pada prinsipnya ada dua macam bahasa Jawa apabila ditinjau dari kriteria tingkatannya. Yaitu bahasa Jawa Ngoko dan Kromo.
Bahasa Jawa Ngoko itu dipakai untuk orang yang sudah dikenal akrab, dan terhadap orang yang lebih muda usianya serta lebih rendah status sosilanya. Lebih khusus lagi adalah bahasa Jawa Ngoko dan Ngoko Andap. Sebaliknya, bahasa Jawa krama, dipergunakan untuk bicara dengan yang belum dikenal akrab, tetapi yang sebaya dalam umur maupun derajat, dan juga terhadap orang yang lebih tinggi umur dan serta status sosialnya.
Pakar antropologi Amerika yang ternama, Clifford Geertz, pada tahun 1960an manyatakan bahwa di dalam kenyataan hidup masyarakat orang Jawa, orang masih membeda-bedakan antara orang priyayi, abangan, santri. Priyayi adalah orang yang terdiri dari pegawai negri dan kaum terpelajar, mereka menyimpan tradisi besar hindu jawa dan mempunyai kebudayaan yang sangat halus. Abangan yaitu penduduk desa masih diwarnai animisme dan hanya luarnya saja yang diwarnai oleh islam. Sedangkan kaum santri yaitu kaum yang mempunyai tradisi yang dinamakan kaum keputihan, dahulu maupun sekarang merupakan ujung tombak agama islam jawa.
Agama islam umumnya berkembang baik di kalangan masyarakat Jawa. Hal ini tmpak nyata pada bangunan-bangunan khusus untuk tempat beribadat orang-orang yang beragama islam, sehingga berlandasan atas kriteriapemelukan agamanya, ada yang disebut islam santri dan islam kejawen. Kecuali itu masih ada juga di desa-desa Jawa orang-orang pemeluk agama Nasrani atau agama besar lainnya.
Mengenai orang santri sudah ada keterangan di atas, mereka adalah penganut agama islam di Jawa ada yang secara patuh dan teratur menjalankan ajaran-ajaran dari agamanya. Adapaun golongan orang islam kejawen, walaupun tidak menjalankan shalat, atau puasa, serta tidak bercita-cita untuk naik haji, tetapi toh percaya kepada ajaran keimanan agama islam. Tuhan , mereka sebut Gusti Allah dan Nabi Muhammad adalah Kangjeng Nabi. Kecuali itu orang islam kejawen ini, tidak terhinda dari kewajiban berzakat. Kebanyakan orang Jawa percaya bahwa hidup manusia di dunia ini sudah diatur dalam alam semesta, sehingga tidak sedikit mereka yang bersikap nerima, yaitu pasrah atau menyerahkan kepada takdir. Inti pandangan pikiran mereka adalah baik diri sendiri, kehidupan sendiri maupun pikiran sendiri, telah tercdakup di dalam alam semesta. Inilah sebabnya manusia hidup tidak terlepas dengan lain-lainnya yang ada di alam jagad. Jadi apabila lain hal yang ada itu mengalami kesukaran, maka manusia akan menderita juga.
2. ISI
2.1 HUBUNGAN TIONGHOA DENGAN ETNIS JAWA
Hubungan Tionghoa-pribumi diwarnai dengan pasang surut sejak jaman kolonial hingga dewasa ini. Dalam beberapa episode terjadi benturan yang cukup memprihatinkan, hingga jatuh korban jiwa. Akan tetapi tidak seluruhnya benar bahwa hubungan Tionghoa dengan pribumi, maupun Tionghoa dengan Islam selalu diwarnai dengan ketegangan. Saya akan memberikan beberapa contoh hubungan “harmonis” yang belum banyak diketahui.
Pada abad XVII banyak Tionghoa yang memeluk agama Islam. Hal ini terbukti dari kata “peranakan” yang pada awalnya ditujukan pada Tionghoa Muslim. Dalam sensus penduduk abad XVII Belanda membedakan antara “Tionghoa” (Chineezen) dengan “peranakan”(Tionghoa muslim) , misalnya di Sumenep (Madura) yang cukup banyak terdapat peranakan. Di Batavia, berhubung jumlah penduduk Tionghoa Muslim cukup banyak, maka diangkatlah seorang opsir untuk komunitas ini. Kapten terakhir peranakan bernama Muhammad Japar (abad XIX). Beberapa Bupati dari pesisir jelas mempunyai darah Tionghoa. Ada pula beberapa Tionghoa yang karena dekat dengan aristokrasi lokal, akhirnya masuk Islam dan mengubah namanya menjadi nama Jawa. Misalnya Bupati Kota Yogyakarta pada jaman Sultan Hamengku Buwono II, Raden Tumenggung Setjadiningrat (alias Tan Jin Sing). Adipati Bangil dan Bupati Tegal adalah generasi kedua dari keluarga Han Siong Kong (lahir di Tiongkok 1673- wafat di Lasem1744). Keluarga Muslim Tionghoa bermunculan juga saat pecahnya Perang Diponegoro. Beberapa orang Tionghoa yang berjasa pada raja mendapatkan gelar dan tanah dan kemudian masuk Islam. Misalnya Keluarga Tjan dari Pajang (Surakarta). Dari keluarga ini muncul seorang inisiator pertunjukan wayang orang untuk publik, yakni Gan Kam. Dua orang diantaranya menjadi guru besar di alam Indonesia merdeka. Salah satunya adalah Prof Tjan Tjoe Siem, yang di tahun 1960an mengajar di IAIN Sunan Kalijaga. Beliau wafat saat mengambil air wudhu di tahun 1978.
Pada abad XVIII Belanda mengeluarkan peraturan yang melarang Tionghoa masuk Islam. Pada waktu itu, Belanda mengenakan pajak untuk kucir orang Tionghoa. Apabila seorang Tionghoa memeluk Islam apapun motivasinya maka ia akan memotong kucir itu. Dengan demikian Belanda akan kehilangan salah satu sumber pendapatannya. Selain itu perkawinan antara Muslim dengan Tionghoa juga dilarang pada abad yang sama. Belanda rupanya takut kalau kedua pihak itu bersatupadu, maka dicari jalan supaya mereka tetap terpisah. Berbagai peraturan itu semakin menjauhkan Tionghoa dari pribumi. Menariknya di tahun 1930an banyak bermunculan gerakan Muslim Tionghoa, yang muncul diluar Jawa. Di Sulawesi, Ong Kie Ho (kelahiran Toli-toli) mendirikan Partai Islam. Penguasa takut akan aktivitasnya dan dia dibuang ke Jawa tahun 1932. Di Medan tahun 1936, seorang Tionghoa totok, Yap A Siong dengan beberapa kawannya mendirikan Partai Islam Tionghoa Di tahun 1933 di Makassar berdirilah Persatuan Tionghoa Islam Indonesia (PITII). Setahun kemudian PITII mendirikan suatu “Sekolah Melayu” dan di tahun 1936 menerbitkan media bernama “Wasilah”.
2.2 KENDALA APA SAJA YANG MENJADI HAMBATAN.
2.2.1 FAKTOR NEGATIF ETNIS TIONGHOA MENGUASAI PEREKONOMIAN.
Pada dasarnya kedatangan etnis Tionghoa ke Nusantara adalah untuk berdagang, Pengaruh negatif terhadap bangsa kita adalah segala sektor perekonomian dan perdagangan di kendalikan oleh etnis Tionghoa, jadi bangsa kita hanya sebagai follower yang selalu melihat kesejahteraan etnis Tionghoa di Tanah air kita sendiri, apalagi di masa pemerintahan Orde baru, masa ini merupakan masa keemasan bisnis etnis Tionghoa, terlebih-lebih bagi yang dekat dengan “Keluarga Cendana”. Etnis Tionghoa mengokohkan diri sebagai salah satu pilar penyanggga pertumbuhan ekonomi Indonesia. Keberanian pengusaha dan pelaku ekonomi etnis Tionghoa lainnya dalam penanaman modal, spekulasi, strategi kerjasama dan jaringan kerja dengan pihak luar negara menjadi point istimewa perilaku ekonomi etnis Tionghoa di tahun-tahun ini. Kedekatan dengan pejabat bahkan sampai ke hal-hal pribadi yang cenderung dihubungkan dengan kolusi, korupsi dan nepotisme juga dilakukan oleh beberapa pengusaha etnis Tionghoa kelas menengah dan atas. Hal tersebut sebenarnya menimbulkan kecemburuan sosial di kalangan masyarakat pribumi, karena pada masa ini etnis Tionghoa benar-benar di manjakan, melebihi masyarakat pribumi itu sendiri
2.2.2 RAKSI ETNIS JAWA KETIKA ETNIS TIONGHOA MENGAMBIL ALIH PEREKONOMIAN.
Pada saat keruntuhan rezim dan kemapanan hidup yang “menyakitkan” dengan adanya krisis moneter. Kalangan bawah “bergerak” karena ketidakpuasan terhadap situasi dan kondisi kehidupan sosial dan ekonominya, serta sikap anti kemapanan, yang salah satunya tercetus dalam bentuk kerusuhan Mei 1998. Kerusuhan berupa penghancuran toko-toko serta pusat perdagangan terutama yang dimiliki oleh etnis Cina. Hal ini ikut mendorong jatuhnya mantan Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan. Kerusuhan Mei 1998, juga berpengaruh pada sikap anti etnis Cina terutama yang memiliki usaha. Orang Cina yang trauma akibat kerusuhan Mei 1998, banyak yang lari ke luar negara, dan sebagian ada yang melarikan modal ke luar negara. Usaha-usaha niaga etnis Cina di kota-kota besar banyak yang vakum.
3. KESIMPULAN.
3.1 ARGUMENTASI.
Seharusnya dalam berperan di bidang Ekonomi politik agar terwujud keselarasan dan keseimbangan antara hak dan kewajiban, maka harus ada kerjasama yang kuat antara etnis Tionghoa dan Etnis Jawa, kerjasama yang mendasar yaitu dengan adanya sistem kekeluargaan yang kuat antar keduanya, saya selalu melihat keadaan masyarakat Tionghoa selalu menutup dirinya dan tidak pernah terbuka dengan masyarakat sekitar, mereka hanya terbuka dengan masyarakat dalam urusan bisnis saja, selain itu di kota-kota besar seperti di Jakarta, Semarang, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya. Kebanyakan etnis Tionghoa selalu hidup berkelompok, yakni dengan adanya pecinan atau kawasan orang-orang Cina, hal tersebut sebenarnya mmembuat hubungan antara etnis Tionghoa dan Etnis Jawa semakain Jauh, dan apabila ada hubungan yang jauh antara etnik maka semakin sulit kedua etnik itu bekerjasama.
Fenomena ini sebenarnya bukan kesalahan etnis Tionghoa semata. Etnis Jawapun seharunya dapat menerima etnis Tionghoa secara penuh. Mereka juga harus bisa membuat atau membangun kerjasama itu sendiri, karena mereka merupakan penduduk asli dan etnis Tionghoa itu katakanlah Tamu, dimana tamu itu harus dilayani dengan baik, dan tamu itu seharusnya berperilaku sopan.
3.2TAWARAN SOLUSI
Metode yang lebih khusus untuk memperbaiki hubungan buruk antara masyarakat Tionghoa dan bukan Tionghoa, sudah dianjurkan oleh beberapa ahli penulis dan anggota masyarakat keturunan Tionghoa. Anjuran ini adalah bahwa lebih banyak orang keturunan Tionghoa yang seharusnya masuk bidang yang lain daripada bidang ekonomi. Misalnya masuk bidang politik, birokrasi, ABRI (Angkatan bersenjata Rebpublik Indonesia) dan lembaga pemerintahan yang lain. Ini bisa membantu memperbaiki hubungan antara orang Tionghoa dan orang Indonesia yang lain, karena ini akan membuat kontribusi masyarakat keturunan Tionghoa terhadap perbaikan kehidupan rakyat Indonesia, bangsanya, lebih nyata. Ini juga membantu masyarakat keturunan Tionghoa merasa bahwa mereka memiliki keterlibatan yang lebih banyak dalam mengontrol kehidupannya dan kehidupan Rakyatnya dalam pemerintahan. Akan tetapi supaya ini bisa terjadi, harus ada keinginan yang dimiliki kedua pihak, yaitu pada satu pihak keinginan masuk bidang bidang ini, dan pada pihak yang lain, keinginan memperbolehkan orang Tionghoa masuk bidang ini.
Pada dasar yang sama, yaitu memberi kontribusi yang lebih nyata dan aktif, tokoh-tokoh yang lain dari masyarakat Tionghoa di Indonesia menganjurkan adanya langkah-langkah mereka sendiri yang berhubungan dengan keuangan dari perusahaannya. Salah satu contoh adalah adanya seorang keturuan Tionghoa yang bernama Harsono D. Amidjojo. Harsono adalah juga pengusaha yang berhasil yang memilik beberapa hotel di Jakarta dan Yogyakarta. Sebagai suatu langkah yang konkret, dia menerbitkan koran dia sendiri yang dinamakan ‘Koranku’. Pembaca koran ini adalah pelajar SMP dan SMA, dan koran ini bertujuan untuk menyediakan ‘nilai nilai moral’ atas pembacanya. Koran ini mencapai tujuannya dengan menggunakan format yang bergaya menghibur dan mendidik . Ini hanya satu contoh bagaimana masyarakat keturunan Tionghoa bisa memperbaiki hubungannya dengan masyarakat bukan Tionghoa, yaitu dengan keterlibatannya dalam memperbaiki keadaan seluruh warga Indonesia.
Saya percaya bahwa walaupun langkah-langkah di atas memang penting untuk memperbaiki hubungan buruk antara masyarakat keturunan Tionghoa dan masyarakat Pribumi, bagi saya ada langkah lain yang juga sama penting. Langkah ini adalah penerimaan kebudayaan keturunan Tionghoa (yaitu kebudayaannya disebut ‘Peranakan Tionghoa’) sebagai salah satu kebudayaan Indonesia. Saya tidak ingin jadi terlibat dalam debatan tentang apakah masyarakat keturunan Tionghoa seharusnya diterima sebagai salah satu ‘suku’ Indonesia, tetapi ada cukup alasan untuk menerima kebudayaan mereka. Ini karena, seperti agama-agama dan kebudayaan, seperti pengaruh Hindu/India dan pengaruh Islam, ini diubah oleh lingkungan sosial Indonesia. Ini sama dengan kebudayaan Tionghoa di Indonesia. Itu bukan sama sekarang dengan kebudayaan yang berada di RRC (Republik Rakyat Cina), karena itu sudah dipengaruhi oleh adat istiadat, kepercayaan dan sikap sikap di Indonesia. Misalnya kebudayaan Peranakan Tionghoa (yaitu campuran unik antara kebudayaan Tionghoa dan Jawa) punya pola kekeluargaan yang matrilineal, yaitu seorang perempuan tua, seperti Nenek, dan Ibu mempunyai posisi yang paling terhormat dalam keluarganya . Kebudayaan Tionghoa tradisional adalah patrilineal karena pola kekeluargaannya berasal dari Konfucianisme Tionghoa tradisional yang memusatkan posisi pada orang lelaki dalam keluarga . Akibatnya kedua masyarakat sudah berbeda sekali.
4. DAFTAR PUSTAKA
4.1 BUKU
1. Suryadinata, Leo.2002. ”Negara dan EtnisTionghoa; Kasus Indonesia”.Pustaka LP3ES; INDONESIA.
2. Greif, Stuart. W. (1991). “WNI; Problematik Orang Indonesia Asal Cina”. PT Pustaka Utama Grafiti; Jakarta;Indonesia.
3. Benny Setiono;2003. Tionghoa dalam pusaran politik, Elkasa, Jakarta
4. Koentjaraningrat,R ;2002. Manusia dan Kebudayaan Indonesia,Djambatan
5. C.W.Th.Baron van Boetzelaer van Asperen en Dubbledam, De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie (Den Haag: Nijhoff, 1947), h.187-88.
6. Suryadinata,Leo. (1978). “Pribumi Indonesians, The Chinese Minority and China”. Heinemann Educational Books;Kuala Lumpur;Malaysia.
4.2 INTERNET
1. Wikipedia; 2004. www.wikipedia .com (9-Juni 2007)
2. Prof..Tjan Tjoe Siem;1999, google, search ”sejarah etnis Tionghoa”. 16.30 PM
Rabu, 03 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar